Menjadikan Prinsip Hidup Lillahi, Billahi dan Ma’Allahi

Assalamu’alaikum. Ahad, 6 Mei 2012 kemarin, seperti biasa Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) secara rutin melakukan kuliah dhuha di AQL Center di Tebet Utara, Jakarta Selatan. Ustadz yang mengisi kuliah dhuha kali ini adalah Ustaz Drs. Fadlan Garamatan, SE, MM. Beliau adalah salah satu pendiri Majelis Ulama dan Intelektual Muda Indonesia (MIUMI).

Selain pendiri MIUMI, ustadz yang juga biasa dikenal dengan “M. Zaaf Fadzlan Rabbani Al-Garamatan” ini adalah pimpinan Yayasan Al-Fatih Kaafah Nusantara (AFKN). Sebuah yayasan yang berkomitmen dalam aktivitas dakwah, pendidikan, dan sosial. Berikut ringkasan kuliah dhuha Ahad lalu yang ditulis oleh Muhammad Aly El-Bhoney.

 

*****

Kegelisahan itu apa sih? Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang artinya tidak tentram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, cemas, dsb. Dalam al-Qur’an, Allah berfirman:

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”(QS Al-Baqarah : 156).

 

Di kata ‘Inna Lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ yang berarti ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali’, maka kalimat tersebut dinamakan kalimat istirjaa atau pernyataan kembali kepada Allah. Bahwa musibah, baik besar maupun kecil semua datang dari Allah.

Namun, jika orang berfikiran jahat kepada Allah swt, maka manusia akan mendzolimi Allah. Manusia tersebut tidak melakukan instrospeksi atas kesalahannya, sehingga musibah itu terjadi. Oleh karena manusia menyalahkan Allah, maka ia tidak percaya tentang kebesaran Allah. Padahal Allah berfirman:

 

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“.( QS Thaha : 124 )

 

 

Sahabat dakwah yang di rahmati Allah swt diantara selusi untuk mengatasi kegelisahan terhadap diri kita semua dengan cara :

 

1.Berzikir Pada Allah swt

Islam memberikan solusi untuk kegelisahan yang mengancam umat Islam tersebut dengan cara berzikir (mengingat) Allah swt. Itu sesuai dengan firman-Nya dalam surat Ar-Ra’du ayat 28:

 

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.”

 

Dari ayat tersebut kita bisa memahami bahwa zikir bisa membentuk hati manusia untuk mencapai kedamaian dan ketenteraman jiwa. Zikir yang berasal dari katadzakara dengan artinya mengingat, memperhatikan, mengena, sambil mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti dapat mengobati krisis jiwa kita.

Biasanya perilaku zikir diperlihatkan orang hanya dalam bentuk renungan sambil duduk berkomat-kamit. Alquran memberi petunjuk bahwa zikir itu bukan hanya ekspresi daya ingat yang ditampilkan dengan komat-kamitnya lidah sambil duduk merenung. Tetapi lebih dari itu, zikir bersifat implementatif dalam berbagai variasi yang aktif dan kreatif.

 

2. Iman dan Amal

Selain berzikir kepada Allah swt., untuk mencapai kebahagiaan dua syarat, yaitu iman dan amal. Iman adalah kepercayaan kepada Allah, rasul-rasul, malaikat-malaikat, kitab-kitab, hari kiamat, dan qada-qadar.

Ini semua berkaitan dengan kebahagiaan akhirat. Adapun syarat kedua adalah amal, yakni perbuatan, tindakan, tingkah laku, termasuk yang lahir dan yang batin, yang tampak dan tidak tampak, amal jasmaniah ataupun amal rohaniah. Kedua hal tersebut (iman dan amal) akan mendapat balasan dari Allah swt.

Berkaitan dengan kegelisan ini, jadi mengingatkan pada pertanyaan Ustaz Bachtiar Nasir di kelas Tadabbur Qur’an Kamis malam, 1 Maret 2012. Beliau memaparkan hal yang cukup menggelitik dengan terlebih dahulu melemparkan pertanyaan ini:

Pernahkah ikut training siap menjadi orang sukses?

Tapi, pernahkah ikut training siap menjadi orang gagal?

Apakah tertawa adalah ukuran kebahagiaan seseorang?

Lantas, apa bedanya orang bahagia dengan orang gila yang tertawa di jalan?

 

Sukses vs gagal, tertawa kebahagiaan vs menangis sedih, menjadi sesuatu yang membuat kita gelisah dalam hidup. So, jangan terlalu mengandalkan rasiomu. Ikhtiar itu harus, tapi kita harus yakin bahwa yang menentukan semuanya adalah Allah. Karena jika kita termasuk orang yang hanya bersandar pada ikhtiarnya, ujungnya akan mudah putus asa. Maka taatlah pada-Nya. Takut pada kekuatan-Nya. Dan yakin pada janji-Nya.

Seia sekata dengan pemaparan Ustaz Fadlan, bahwa semua datang dari Allah, semua ketentuan Allah, semua akan kembali pada Allah, dan semua karena Allah. Lalu mengapa kita gelisah? Jawabannya: karena kita cinta dunia.

Padahal sesungguhnya kita milik Allah Maha Suci berasal dari Allah dalam keadaan suci. Lantas, bagaimana jika kemudian milik Allah itu kotor? Bagaimana jika jiwaku kotor? Pikiranku, cara pandangku, cara menilaiku, perilakuku, kata-kataku, semuanya kotor? Bagaimana jika jasmaniku kotor? Mataku, telingaku, kakiku, perutku, makananku, mulutku, pakaianku, rumahku, cara berobatku, semuanya kotor?

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Rum: 30)

Setelah kita tahu bahwa semua datang dan kembali pada Allah. Mari jadikan konsensus hidup kita hanya untuk Allah. Jangan berfikir seperti gajah. Hidungnya besar, telinganya besar, badannya besar, semuanya besar. TAPI, matanya kecil. Ibaratnya orang, dia hanya sibuk dengan urusan dunia, fasilitas maunya serba besar, tapi mata hatinya kecil. Karena sungguh tidak akan ada ujungnya ketika kita lebih mementingkan dunia. Maunya lebih dan lebih. Ibaratnya punya sepada, ngarep motor. Sudah punya motor, mau mobil. Ada mobil, pengin pesawat. Dapat pesawat, ingin pulau. Nauzubillah.

Sahabat dakwah yang dirahmati Allah swt. Dalam menjalani kehidupan bangsa yang sangat kompleks dan penuh persoalan ini, kita umat Islam perlu senantiasa berzikir atau mengingat Allah swt. Juga mempertebal iman serta beramal saleh agar segala aktivitas kehidupan yang kita jalani dapat berjalan normal dan mendapat ketenteraman jiwa.

Bukanlah  kekayaan  yang  ada dalam genggaman kita, tapi Kekayaan yang sesungguhnya adalah Kekayaan dalam  jiwa. Kita semua boleh menjadi orang yang kaya, tapi  jadilah orang kaya yang beriman kepada Allah swt, boleh menjadi orang yang cantik, tapi seperti cantik dan berkeretaria istri2 para Nabi dan Sahabat Rasulullah saw dan ini semua karena Allah swt karena Dunia ini hanya Sarana untuk kehidupan akhirat kita semua, hanya untuk bekal kehidupan Ukhrawy.

Pertantaan dari Jama’ah : Bagaimana menjaga komitmen dalam diri kita ? jwb untuk menjaga komitmen tersebut dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, tidak boleh mengharap pujian kecuali hanya kepada Allah, kemudian sering mengikuti kajian Al-Qur’an dan ketika mendengar acara atau politik yang ada di luar kita harus lebih memenuhi panggilan dakwah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt, kemudian Menjadikan prinsip dalam hidupnya : Lillahi, Billahi dan Ma’allahi “ Berkeyakinan bahwa Allah Bersama kita dan pada Akhirnya kita semua kembali bersama Allah swt .( Muhammad Aly El-Bhoney)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s