Menghafal al-Qur’an Tak Kenal Usia

Image

Alhamdulillah Team UstadzQu Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQL) telah membuka kelas tahfidzh Al-Qur’an. Dalam pembukaan kelas yang berlangsung di AQL Center di Tebet Utara No 40, Jakarta Selatan, dihadiri beberapa peserta Ikhwan maupun Akwat, dimana diisi dengan pamateri Ustaz Yana Luqman Al Hakim Lc Al-Hafidz.

Saudaraku yang dirahmati Allah, berikut laporan tentang pembukaan kelas tahfidzh al-Qur’an yang ditulis oleh saudara kita Muhammad Aly El-Bhoney dari Media External Relations (MER) AQL. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

 ***

 “Tujuan akhir dari menghafal Qur’an bukan hanya sekedar hafal, tapi bagaimana cara kita menjaga agar adab kita juga terjaga dengan Qur’an. Karena hafal Qur’an bukanlah jaminan bahwa kita akan menjadi ahlul Qur’an yang menjadi pilihan Allah. Jadi, selain hafal, haruslah juga diamalkan.”

Begitulah Ustaz Yana Luqman Al Hakim Lc Al-Hafidz memberi motivasi di depan Ihwan maupun Akwat kelas tahfidzh al-Qur’an. Ustaz Yana adalah alumni dari Kairo dan telah mendapatkan  2 Sanad Hifdzul Qur’an. Sanad yang pertama di dapat dari Syeikh di Al-Azar Cairo, dengan menyetor hafalan selama 1 tahun. Sanad yang kedua diperoleh dari syeikh di Maroko dengan menyetor hafalan selama 1 bulan. Sanad yang dimaksud disini adalah bukti otentik berupa lembaran atau ijazah, pada lembaran tersebut terdapat nama-nama urutan, sehingga sampai pada Rosulullah SAW. Dengan menyetor hafalan dengan mentalaqqi-kan nya sebagaimana Al-Qur’an itu diturunkan (terkait makhroj, sifat dan tajwid).

Metode Talaqqi yang Ustaz Yana ajarkan kepada seluruh jamaa’ah adalah memberikan dorasi waktu dalam menghafal Al-qur’an selama 15 menit untuk 5 Ayat. Alhamdulillah! Subhanallah! Ada beberapa jamaa’ah yang bisa menghafalnya dalam waktu sesingkat itu. Di antaranya adalah seorang ibu yang berusia 48 tahun. Bahkan Ibu ini mampu menghafalkan 5 ayat dalam waktu kurang dari 15 menit. Subhanallah! Sungguh Allah telah memudahkan menghafal al-qur’an kepada hambanya.

Bagaimana cara menghilangkan kejenuhan dalam menghafalkan Al-Qur’an?

Begitulah pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang jama’ah ba’da tahfidzh al-Qur’an. Menurut Ustaz Yana, sebelum menghafal al-Qur’an, perlu persiapan. Jangan pernah menghafal al-Qur’an dalam keadaan stres atau pusing. Alihkan kepada pekerjaan yang lain, yang dapat menenangkan hati dan pikiran, baru setelah itu bisa membaca al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an bisa dihafal jika kita dalam keadaan tenang.

Cara menenangkan diri sebelum membaca al-Qur’an bisa pula membuka buku-buku Sirah atau sejarah para sahabat Rasulullah. Di situ kita bisa tahu,  cara mereka menghafal al-Qur’an, dan juga pekerjaan-pekerjaan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt.

 

Bagaimana dengan penghafal Al-Qur’an,tapi tetap melakukan maksiat dengan Pacaran?Wal Iyaadzu Billah…”

 

Saudaraku, perlu kita ketahui, bahwa al-Qur’an bisa dihafal oleh siapapun, bahkan orang Yahudi maupun Nasrani. Namun sangat sedikit dari penghafal-penghafal al-Qur’an itu yang bisa mendapatkan berkah atau keridhohan dari Allah swt. Hal tersebut dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Furqan ayat 30, yang artinya :

 

“ Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”.

 

Di ayat di atas tersebut menjelaskan, bahwa Rasul berkata kepada Allah, karena begitu kaumnya menjadikan al-Qur’an sesuatu yang acuh, atau mereka lalai dalam memahami Al-Qur’an. Mereka menjadikan al-Qur’an sesuatu yang biasa, tanpa pernah meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalamullah. Firman Allah ta’ala.

Al-Qur’an bukanlah kata-kata manusia. Bukan pula kata-kata jin, syaithan atau malaikat. Ia sama sekali bukan berasal dari pikiran makhluk, bukan syair, bukan sihir, bukan pula produk kontemplasi atau hasil pemikiran filsafat manusia. Hal ini ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam al-Qur’an surat An-Najm ayat 3-4, yang artinya:

“…dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)…”

 

Menurut bahasa, “Qur’an” berarti “bacaan”. Pengertian seperti ini dikemukakan dalam al-Qur’an sendiri, yakni dalam surat Al-Qiyamah, ayat 17-18, yang artinya:

 

“Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. (Karena itu), jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya”.

 

Adapun menurut istilah al-Qur’an berarti: “Kalam Allah yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad, yang disampaikan secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah”.

 Saudaraku, al-Qur’an juga merupakan pedoman hidup bagi ummat Islam. Apabila kita berpegang teguh kepadanya, kita tidak akan sesat selama-lamanya. Allah sudah memudahkan al-Qur’an kepada hamba-Nya. Hal itu tertulis dalam surat al-Qamar ayat 17, yang artinya :

 

 

Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Subhanallah sungguh dan betapa Allah menyayangi dan memuliakan hamba-Nya dengan al-Qur’an, kerena ayat tersebut ada 4 kali pengulangan ayat yang menandakan, bahwa Allah memudahkan al-Qur’an bagi kita semua. Pengulangan itu juga menandakan, penekanan untuk terus dihafal, dipahami, mentadabburi serta mengamalkannya.

Di saat menghafal, kita tidak mengenal batas usia. Sebab, kalau kita mendengar sejarah Rasulullah seorang nabi yang UMMI, yang tidak bisa membaca al-Qur’an, namun Rasulullah tetap mendapat Gelar Khootamul Anbiyaa’ Nabi yang terakhir di antara nabi Allah swt. dan Nabi juga menghafal al-Qur’an di umur 40 tahun. Beliau betul-betul mempersiapkan sebelum menghafal al-Qur’an, yakni dengan menyendiri di Gowa Hira. Beliau menjalankan Qiyaamullail, shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis, serta sedekah dan infaq.

 

 “Jangan lihat sisa usiamu, karena itu masih rahasia. Kita nikmati yang ada saja, ”, ujar Ustaz Hendra yang juga hadir dalam acara pembukaan launching kelas Tahfidz Qur’an ini.

Bahwa menghafal Al-Qur’an tidak memandang usia. Sebab Allah yang akan mudahkan kita ketika ada kemauan. Orang yang telah berazam untuk menghafal Al-Qur’an adalah karakter dari orang yang beriman kuat. Iman yang sebenar-benar iman, iman yang tidak ada di mulut. Dan merupakan orang-orang yang telah dipilih oleh Allah sebagaimana telah disebutkan pada QS Faathir ayat 32.

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu itu adalah karunia yang amat besar.”

(Muhammad Aly El-Bhoney)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s